MAKALAH KEBUTUHAN DASAR MANUSIA II
KEBUTUHAN SEKSUALITAS
DISUSUN OLEH :
Aunur Rafiq
|
20146310218
|
Deri Apriani |
20146320194
|
|
DiraShabrina
|
20146320220
|
|
Elly Irmayanti
|
20146320191
|
|
Hayati
|
20146320190
|
|
Johanes Rully B.
|
20146310172
|
Novi Safitri
|
20146320241
|
Ramayanti
|
20146320178
|
Siti Aisyah
|
20146320189
|
|
Tiara Permata S.
|
20146320240
|
PRODI D-IV KEPERAWATAN SINGKAWANG POLTEKES KEMENKES
PONTIANAK
TAHUN AJARAN 2014/2015
KATA PENGANTAR
Terima
kasih kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
hidayah-Nya kami masih diberikan keselamatan sehingga kami bisa menyelesaikan
tugas Kebutuhan Dasar Manusia II ini. Shalawat dan salam juga selalu kami
hanturkan ke junjungan Nabi besar Muhammad SAW. Tak lupa kami juga berterima
kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu baik tenaga maupun pikiran.
Tim penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada dosen pembimbing yang telah membimbing kami dalam proses perkuliahan dan membantu kami dalam
pengerjaan makalah yang berjudul Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman. Kami juga
mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah mendukung kami sehingga
makalah ini dapat selesai.
Makalah ini dibuat dengan tujuan
agar bermanfaat bagi pembaca yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk
membaca dan menerima sedikit ilmu dari makalah ini.
Kami menyadari bahwa banyak terdapat
kekurangan dari makalah kami baik dari segi penulisan, maupun isi dari makalah.
Untuk itu tim penulis mengharapkan kritik dan saran agar kami dapat menjadi
lebih baik lagi dalam penulisan makalah di kemudian hari. Semoga makalah ini
dapat berguna sebagaimana mestinya.
Singkawang, April 2015
Tim
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebutuhan seksual merupakan kebutuhan dasar manusia
berupa ekspresi perasaan dua orang individu secara pribadi yang saling
menghargai,
memerhatikan, dan menyayangi sehingga terjadi sebuah hubungan timbal balik
antara dua individu tersebut. Seks pada hakekatnya merupakan dorongan
naluri alamiah tentang kepuasan syahwat. Tetapi banyak kalangan
yangsecara ringkas mengatakan bahwa seks itu adalah istilah lain
dari Jenis kelamin yangmembedakan antara pria dan wanita. Jika
kedua jenis seks ini bersatu, maka disebut perilaku seks
Sedangkan perilaku seks dapat diartikan sebagai suatu
perbuatan untuk menyatakan cinta dan menyatukan kehidupan secara
intim. Ada pula yang mengatakan bahwa seks merupakan hadiah untuk memenuhi
atau memuaskan hasrat birahi pihak lain. Akan tetapi sebagai manusia
yang beragama, berbudaya, beradab dan bermoral,
Seks merupakandorongan emosi cinta suci yang dibutuhkan dalam angka
mencapai kepuasan nurani dan memantapkan kelangsungan keturunannya.
Tegasnya, orang yang ingin mendapatkan cinta dan keturunan, maka ia
akan melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Seks yang pada
mulanya diidentikkan dengan cinta dan pernikahan, sekarang lebih diasosiasikan
dengan suka dan kencan.
Perilaku seksual adalah perilaku yang melibatkan
sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang telah mencapai
pada tahap hubungan intim, yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami
istri. Beberapa tahun terakhir ini, persepsi masyarakat terhadap segala
sesuatu yang berhubungan dengan masalah seksual telah mengalami perubahan yang
drastis. Perilaku telah beranjak dari posisi nilai moral menjadi budaya. Dengan
kata lain, jika sebelumnya seks sarat dengan kaidah moral, sekarang seks telah
merambah ke segala penjuru kehidupan sebagai gaya hidup yang nihil
moralitas. Perilaku seks juga merupakan salah satu kebutuhan pokok yang
senantiasa mewarnai pola kehidupan manusia dalam masyarakat. Perilaku
seks sangat dipengaruhi oleh nilai dan norma budaya yang berlaku
dalam masyarakat. Setiap golongan masyarakat memiliki persepsi
dan bataskepentingan tersendiri terhadap perilaku seks.
B. Rumusan Masalah
a. Apa yang
dimaksud dengan kebutuhan seksualitas ?
b. Apa saja
aspek yang memengaruhi kebutuhan seksual ?
c. Bagaimana
perkembangan kebutuhan seksual ?
d. Bagaimana
pola fungsi seksual ?
e. Bagaimana
siklus respon seksual ?
f.
Apa saja penyimpangan seksual pada orang dewasa ?
g. Bagaimana
bentuk abnormalitas seksual akibat dorongan seksual abnormal?
h. Apa saja masalah
yang berhubungan dengan seksualitas ?
i.
Apa saja penyakit yang mempengaruhi kemampuan seksual
seseorang ?
j.
Apa saja faktor yang mempengaruhi masalah seksual ?
k. Bagaimana
masalah keperawatan pada seksualitas ?
l.
Bagaimana asuhan keperawatan pada masalah seksualitas ?
C. Tujuan
Tujuan di
tulisnya makalah ini diantaranya untuk :
a. Mahasiswa
dapat mengetahui apa yang diamksud dengan kebutuhan seksualitas
b. Mahasiswa
dapat mengetahui aspek yang memengaruhi kebutuhan seksual
c. Mahasiswa
dapat mengetahui perkembangan kebutuhan
seksual
d. Mahasiswa
dapat mengetahui pola fungsi seksual
e. Mahasiswa
dapat mengetahui siklus respon seksual
f. Mahasiswa
dapat mengetahui bentuk penyimpanagn seksual pada orang dewasa
g. Mahasiswa
dapat mengetahui bentuk abnormalitas seksual akibat dorongan seksual akibat
dorongan seksual abnormal
h. Mahasiswa
dapat mengetahui masalah yang berhubungan dengan seksualitas
i. Mahasiswa
dapat mengetahui yang mempengaruhi kemampuan seksual seseorang
j. Mahasiswa
dapat mengetahui faktor yang mempengaruhi masalah seksual
k. Mahasiswa
dapat mengetahui masalah keperawatan pada seksualitas
l.
Mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan pada
masalah seksualitas
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kebutuhan Seksual
Kebutuhan
adalah suatu keadaan yang ditandai oleh perasaan kekurangan dan ingin diperoleh
sesuatu yang akan diwujudkan melalui suatu usaha atau tindakan (Murray dalam
Bherm, 1996)
Kebutuhan Seks (Sex Needs), yaitu kebutuhan pelampiasan dorongan seksual, bagi mereka yang sudah matang fungsi biologisnya. Kebutuhan akan seks bagi manusia sudah ada sejak lahir. Seks tergolong dalam kebutuhan primer – yang sama dengan kebutuhan: makan, minum, mandi, berpakaian, tidur, bangun, bekerja, buang air besar, atau buang air kecil. Aktiviats-aktivitas rutin ini dilakukan setiap manusia sepanjang hidup. Orang bisa berpuasa tetapi dalam batas waktu tertentu. Dan itulah yang disebut dengan kebutuhan seks.
Kebutuhan seksual adalah kebutuhan dasar manusia berupa ekspresi perasaan dua orang individu secara pribadi yang saling menghargai memperhatikan, dan menyayangi sehingga terjadi hubungan timbal balik antara kedua individu tersebut ( Alimut , 2006).
Kebutuhan Seks (Sex Needs), yaitu kebutuhan pelampiasan dorongan seksual, bagi mereka yang sudah matang fungsi biologisnya. Kebutuhan akan seks bagi manusia sudah ada sejak lahir. Seks tergolong dalam kebutuhan primer – yang sama dengan kebutuhan: makan, minum, mandi, berpakaian, tidur, bangun, bekerja, buang air besar, atau buang air kecil. Aktiviats-aktivitas rutin ini dilakukan setiap manusia sepanjang hidup. Orang bisa berpuasa tetapi dalam batas waktu tertentu. Dan itulah yang disebut dengan kebutuhan seks.
Kebutuhan seksual adalah kebutuhan dasar manusia berupa ekspresi perasaan dua orang individu secara pribadi yang saling menghargai memperhatikan, dan menyayangi sehingga terjadi hubungan timbal balik antara kedua individu tersebut ( Alimut , 2006).
B. Tinjauan Seksual dari Beberapa aspek
Makna seksual dapat di tinjau dari berbagai aspek , di
antaranya :
1. Membicarakan
seksual masih tabu.
2. Pengekspresiannya
masih secara tertutup.
3. Hanya
dikaitkan dengan masalah hubungan antar lawan jenis.
4. Dalam pelayanan kesehatan dengan pendekatan holistik,semua aspeksaling berinteraksi.
5. Aspek
biologis. Aspek ini memandang dari segi biologi seperti pandangan
anatomi dan fisiologi dari sistem reproduksi (seksual) , kemampuan organ seks,
dan adanya hormonal serta sistem saraf yang berfungsi atau berhubungan dengan
kebutuhan seksual.
6. Aspek
Psikologis. Aspek ini merupakan pandangan terhadap identitas jenis
kelamin, sebuah perasaan dari diri sendiri terhadap kesadaran identitasnya,
serta memandang gambaran seksual atau bentuk konsep diri yang lain.
7. Aspek Sosial
Budaya. Aspek ini merupakan pandangan budaya atau keyakinan yang
berlaku di masyarakat terhadap kebutuhan seksual serta perilakunya di
masyarakat.
C. Perkembangan seksual
Perkembangan seksual di awali dari masa pre
natal dan bayi, kanak-kanak, masa pubertas, masa dewasa muda dan pertengahan
umur, serta dewasa.
1. Masa
prenatal dan bayi
Pada masa ini komponen fisik atau biologis sudah mulai
berkembang. Berkembangnya organ seksual mampu merespon rangsangan, seperti
adanya ereksi penis pada laki-laki dan adanya pelumas vagina pada wanita.
Perilaku ini terjadi ketika mandi, bayi merasakan adanya perasaan senang.
Menurut Sigmund Freud, tahap perkembangan psikoseksual pada masa ini adalah :
a. Tahap Oral, terjadi
pada umur 0-1 tahun. Kepuasan, kesenangan atau kenikmatan dapat dicapai dengan
cara menghisap, menggigit, mengunyah, atau bersuara. Anak memiliki
ketergantungan yang sangat tinggi dan selalu minta dilindungi untuk mendapatkan
rasa aman. Masalah yang di peroleh pada masa ini adalah masalah menyapih dan
makan.
b. Tahap Anal, terjadi
pada umur 1-3 tahun. Kepuasan pada tahap ini terjadi pada saat pengeluaran
feses. Anak mulai menunjukan keakuannya, sikapnya sangat narsistik (cinta
terhadap diri sendiri), dan egois. Anak juga mulai mempelajari struktur
tubuhnya. Pada tahap ini anak sudah dapat di latih dalam hal kebersihan.
2. Masa
Kanak-kanak
Masa ini di bagi dalam usia prasekolah, dan sekolah.
Perkembangan seksual pada masa ini di awali secara biologis atau fisik,
sedangkan perkembangan psikoseksual pada masa ini adalah
1. Tahap
oedipal/phalik, terjadi pada umur 3-5 tahun. Kepuasan anak
terletak pada rangsangan otoerotis, yaitu meraba-raba, merasakan kenikmatan
dari beberapa erogennya. Anak juga mulai menyukai lain jenis. Anak laki-laki
cenderung lebih suka sama ibunya dari pada ayahnya, sebaliknya anak perempuan
lebih suka ayahnya. Anak mulai dapat mengidentifikasi jenis kelamin dirinya,
apakah laki-laki atau perempuan, belajar melalui interaksi dengan figur orang
tua, serta mulai mengembangkan peran sesuai dengan jenis kelaminnya.
2. Tahap Laten, terjadi
pada umur 5-12 tahun. Kepuasan anak mulai terintegrasi, mereka memasuki masa
pubertas dan berhadapan langsung pada tuntutan sosial, seperti suka berhubungan
dengan kelompoknya atau teman sebaya, dorongan libido mulai berbeda. Pada masa
sekolah ini, anak sudah banyak bertanya tentang hal seksual melalui interaksi
dengan orang dewasa, membaca atau berfantasi.
3. Masa
Pubertas / Remaja
Pada masa ini sudah terjadi kematangan fisik dari
aspek seksual dan akan terjadi kematangan secara psikososial. Terjadinya
perubahan secara psikologis ini ditandai dengan adanya perubahan dalam citra
tubuh (body image) , perhatian yang cukup besar terhadap fungsi tubuh,
pembelajaran tentang perilaku, kondisi sosial, dan perubahan lain, seperti
perubahan berat badan, tinggi badan, perkembangan otot, bulu di pubis, buah
dada atau mentruasi bagi wanita. Tahap yang di sebut oleh Freud sebagai tahap
genital ini terjadi pada umur 12 - 18 tahun. Kepuasan anak pada tahap
ini akan kembali bangkit dan mengarah pada perasaan cinta yang matang terhadap
lawan jenis.
4. Masa Dewasa
Muda dan Pertengahan Umur
Pada tahap ini perkembangan secara fisik sudah cukup
dan ciri seks sekunder mencapai puncaknya, yaitu antara umur 18-30 tahun. Pada
masa pertengahan umur terjadi perubahan hormonal; pada wanita di tandai dengan
penurunan estrogen, pengecilan payudara dan jaringan vagina, penurunan
cairan vagina, selanjutnya akan terjadi penurunan reaksi ereksi; pada pria di
tandai dengan penurunan ukuran penis serta penurunan semen. Dari
perkembangan psikososial, sudah mulai terjadi hubungan intim antara lawan
jenis, proses pernikahan dan memiliki anak, sehingga terjadi perubahan peran.
5. Masa Dewasa Tua
Perubahan yang terjadi pada tahap ini pada wanita di
antaranya adalah atrofi pada vagina dan dan jaringan payudara, penurunan cairan
vagina, dan penurunan intensitas orgasme pada wanita; sedangkan pada pria akan
mengalami penurunan produksi sperma, berkurangnya intensitas orgasme,
terlambatnya pencapaian ereksi, dan pembesaran kelenjar prostat.
D. Pola Fungsi Seksual
1. Seksual yang
Sehat Meliputi :
· Bebas dari
gangguan fisik maupun psikologis.
· Bersikap
positif terhadap seksual.
· Mempunyai pengetahuan
yang akurat tentang seksualitas
· Kesesuaian
antara jenis kelamin, identitas, dan peran
2. Karakteristik Kesehatan Seks :
·
Kemampuan mengekspresikan potensi
seksual, dengan meniadakankekerasan, eksploitasi dan penyalahgunaan seksual.
·
Gambaran tubuh positif,
ditunjukkan dengan kepuasan diri terhadap penampilan pribadi
·
Merupakan hubungan biologis yang paling intim antara
dua individu yang mempunyai tujuan
·
Mendapatkan keturunan (reproduksi)
·
Memenuhi kebutuhan biologis (rekreasi)
·
Mampu membina hubungan efektif
dengan orang lain
·
Kemampuan mengekspresikan
seksualitas melalui komunikasi, sentuhan, emosional dan cinta
3. Komponen kesehatan seksual :
·
Konsep seksual diri yaitu nilai tentang kapan, dimana, dengan siapa dan bagaimana seseorang
mengekspresikan seksualitasnya. Konsep seksual diri yang negatif
menghalangi terbentuknya suatu hubungan dengan orang lain.
·
Body image, yaitu pusat kesadaran terhadap
diri sendiri, secara konstan dapat
berubah. Bagaimana seseorang memandang
(merasakan) penampilan tubuhnya berhubungan dengan seksualitasnya: Kehamilan, proses penuaan, trauma, penyakit, dan terapi
tertentu. Contoh : wanita ---bentuk tubuh dan ukuran payudara, Pria --- ukuran penis.
·
Identitas jender yaitu suatu pandangan mengenai jenis kelamin seseorang, sebagai laki-laki
atau perempuan, mencakup komponen biologi, juga
norma sosial dan budaya.
·
Orientasi seksual (identitas
seksual) adalah bagaimana seseorang mempunyai kesukaan berhubungan intim dengan
orang lain, dengan lawan jenis atau sejenis.
4. Tubuh
Manusia Memiliki Zona Erotik : Alat genital, kulit , paha,
bibir , telinga, buah dada , bila dirangsang menyebabkan sexual
arousal & desire (keinginan).
5. Ekspresi
Seksual perasaan dipengaruhi
oleh: Sentuhanbau, penglihatan, suara, perasan, pikiran, fantasy
6. Organ Seksual Wanita
·
Organ seks internal : vagina,
uterus, tubulus falopii dan ovarium.
·
Organ seks eksternal secara
kolektif disebut vulva yang terdiri dari mons pubis (mons veneris), labia
mayora, labia minora, klitoris dan ostium vaginalis (introitus)
7. Organ
seksual pria
·
Organ seks eksternal pria
adalah penis dan skrotum.
·
Organ seks internal pria
yaitu testis, epididimis dan duktus deferen, kelenjar prostat, vesikula
seminalis dan kelenjar Cowper.
E.
Siklus respon seksual
Siklus
respon seksual terdiri atas beberapa tahap berikut :
1.
Tahap suka cita. Merupakan
tahap awal dalam respons seksual pada wanita ditandai dengan banyaknya lendir
pada daerah vagina, dinding vagina mengalami ekspansi atau menebal,
meningkatnya sensitifitas klitoris, putting susu menegang, dan ukuran buah dada
meningkat. Pada laki-laki ditandai dengan ketegangan atau ereksi pada penis dan
penebalan atau elevasi pada skrotum.
2.
Tahap kestabilan. Pada
tahap ini wanita mengalami retraksi di bawah klitoris, adanya lendir yang
banyak dari vagina dalam labia mayora, elevasi dari serviks dan uterus, serta
meningkatnya otot-otot pernafasan. Pada laki-laki ditandai dengan meningkatnya
ukuran gland penis dan tekanan otot pernafasan.
3.
Tahap orgasme (puncak). Tahap
puncak dalam siklus seksual pada wanita ditandai adanya kontraksi yang tidak
disengaja dari uterus, rectal dan spinchter, uretra, dan otot-otot lainnya,
terjadi hiperventilasi dan meningkatnya denyut nadi. Pada laki-laki ditandai
dengan relaksasi pada spinchter kandung kencing, hiperventilasi, dan meningkatnya
denyut nadi.
4.
Tahap resolusi (peredaan). Merupakan
tahap terakhir dalam siklus respons seksual, pada wanita ditandai dengan adanya
relaksasi dari dinding vagina secara berangsur-angsur, perubahan warna dari
labia mayora, pernafasan, nadi tekanan darah, otot-otot kembali berangsur
normal. Pada laki-laki ditandai dengan menurunnya denyut pernafasan dan denyut
nadi serta melemasnya penis.
F.
Penyimpangan Seksual Pada Orang Dewasa
Beberapa bentuk penyimpangan seksual atau deviasi
seksual yang dapat dijumpai di masyarakat antara lain :
a. Pedofilia, Kepuasan
seksual di capai dengan menggunakan objek anak-anak. Penyimpangan ini ditandai
dengan adanya fantasi berhubungan seksual dengan anak di bawah usia pubertas.
Hal tersebut dapat disebabkan oleh kelainan mental, seperti shizofrenia, sadism
organic, atau gangguan kepribadian organik.
b. Eksibisionisme,kepuasan
seksual dicapai dengan cara mempertontonkan alat kelamin di depan umum. Hal ini
biasanya dilakukan secara mendadak di hadapan orang yang tidak di kenal, namun
tidak ada upaya untuk melakukan hubungan seksual.
c. Fetisisme, Kepuasan
seksual di capai dengan menggunakan benda seks seperti sepatu tinggi, pakaian
dalam, stocking, atau lainnya. Disfungsi ini dapat di sebabkan antara lain
karena eksperimen seksual yang normal dan bedah pergantian kelamin.
d. Transvestisme, Kepuasan
seksual di capai dengan memakai pakaian lawan jenis dan melakukan peran seks
yang berlawanan, misalnya pria yang senang menggunakan pakaian dalam wanita.
e. Transeksualisme. Bentuk
penyimpangan seksual ditandai dengan perasaan tidak senang terhadap jenis
kelaminnya, adanya keinginan untuk berganti kelamin.
f. Voyerisme/Skopofilia. Kepuasan
seksual dicapai dengan melihat alat kelamin orang lain atau aktifitas seksual
yang dilakukan orang lain.
g. Masokisme. Kepuasan
seksual dicapai melalui kekerasan atau di sakiti terlebih dahulu secara fisik
atau psikologis.
h. Sadisme. Merupakan
lawan dari masokisme. Kepuasan seksual di capai dengan menyakiti objeknya, baik
secara fisik atau psikologis (dengan menyiksa pasangan). Hal tersebut dapat
disebabkan antara lain karena perkosaan dan pendidikan yang salah.
i. Homoseksual
dan Lesbianisme. Penyimpangan seksual yang di tandai dengan
ketertarikan secara fisik maupun emosi kepada sesama jenis. Kepuasan
seksual dicapai melalui hubungan dengan orang berjenis kelamin yang sama.
j. Zoofilia. Kepuasan
seksual di capai dengan menggunakan objek binatang.
k. Sodomi. Kepuasan
seksual dicapai dengan hubungan melalui anus.
l. Nekropilia. Kepuasan
seksual di capai dengan menggunakan objek mayat.
m. Koprofilia. Kepuasan
seksual di capai dengan menggunakan objek feses.
n. Urolagnia. Kepuasan
seksual di capai dengan menggunakan objek urine yang diminum.
o. Oral
Seks/Kunilingus. Kepuasan seksual di capai dengan menggunakan
mulut pada alat kelamin wanita.
p. Felaksio. Kepuasan
seksual di capai dengan menggunakan mulut pada alat kelamin laki-laki.
q. Froterisme/Friksionisme. Kepuasan
seksual di capai dengan cara menggosokan penis pada pantat wanita atau badan
yang berpakaian di tempat yang penuh sesak manusia.
r. Goronto. Kepuasan
seksual di capai melalui hubungan dengan lansia.
s. Frottage. Kepuasan
seksual di capai dengan cara meraba orang yang di senangi tanpa di ketahui
lawan jenis.
t. Pornografi. Gambar/tulisan
yang dibuat secara khusus untuk memberi rangsangan seksual (Maramis WF,
2004).
G.
Bentuk Abnormalitas Seksual Akibat
Dorongan Seksual Abnormal
Banyak dorongan seksual abnormal yang dapat
menyebabkan terganggunya fungsi seksual atau terjadinya abnormalitas seksual.
Beberapa bentuk abnormalitas seksual akibat dorongan seksual abnormal antara
lain :
a. Prostitusi. Bentuk
penyimpangan seksual dengan pola dorongan seks yang tidak wajar dan tidak
terintegrasi dalam kepribadian, sehingga relasi seks bersifat impersonal, tanpa
adanya afeksi dan emosi yang berlangsung cepat, dan tanpa adanya orgasme pada
wanita. Kejadian ini dapat berlaku pada laki-laki maupun perempuan. Pada
laki-laki, prostitusi disebabkan karena keinginan mencari variasi dalam seks,
iseng, dan ingin menyalurkan kebutuhan seksual. Pada wanita, kejadian ini dapat
di sebabkan karena factor ekonomi, adanya diorganisasi kehidupan keluarga, dan
adanya nafsu seks yang abnormal.
b. Perzinahan. Bentuk
relasi seksual antara laki-laki dan wanita yang bukan suami istri. Perzinahan
pada wanita baru mengarah ke hubungan seksual dengan laki-laki lain setelah
adanya relasi emosional dan afeksional yang sangat kuat. Pada pria, perzinahan
biasanya disebabkan oleh rasa iseng atau dorongan untuk memuaskan seks secara
sesaat.
c. Frigiditas. Merupakan
ketidak mampuan wanita mengalami hasrat seksual atau orgasme selama senggama.
Frigiditas ditandai dengan berkurangnya atau ketidaktertarikan sama sekali pada
hubungan seksual atau tidak mampu menghayati orgasme pada koitus (hubungan
intim). Beberapa faktor yang menyebabkan frigiditas adalah kelainan pada rahim
atau vagina, adanya hubungan yang tidak baik dengan suami, rasa cemas,
bersalah, atau takut.
d. Impotensi. Ketidakmampuan
pria untuk melakukan relasi seks atau senggama atau ketidakmampuan pria dalam
mencapai atau mempertahankan ereksi. Gangguan ini dapat disebabkan oleh faktor
psikologis, seperti kecemasan atau ketakutan, pengalaman buruk masa lalu, dan
persepsi seks yang salah.
e. Ejakulasi
premature. Merupakan kondisi dimana terjadinya pembuangan
sperma yang terlalu dini sebelum zakar melakukan penetrasi dalam liang senggama
atau berlangsung ejakulasi beberapa detik sesudah penetrasi. Masalah ini
umumnya disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri serta kagagalan dalam
membangun hubungan suami istri.
f. Vaginismus. Peristiwa
yang ditandai dengan kejang yang berupa penegangan atau pengerasan yang sangat
menyakitkan pada vagina atau kontraksi yang sangat kuat sehingga penis terjepit
dan tidak bisa keluar. Hal ini dapat disebabkan oleh kelainan organis dan
psikologis (ketakutan).
g. Dispareunia. Keadaan
yang ditandai dengan timbulnya kesulitan dalam melakukan senggama atau perasaan
sakit pada saat koitus. Kejadian ini dapat terjadi pada saat sperma keluar,
karena kurangnya cairan vagina, dan lain-lain.
h. Anorgasme. Kondisi
kegagalan dalam mencapai klimaks selama bersenggama, biasanya bersifat psikis,
ditandai dengan pengeluaran sperma tanpa mengalami puncak kepuasan. Hal ini
dapat disebabkan oleh faktor psikis atau adanya faktor organik seperti
ketidakmampuan penetrasi untuk memberi rangsangan atau vagina yang longgar.
i. Kesukaran
koitus pertama. Keadaan dimana terjadi kesulitan dalam melakukan
koitus pertama dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan di antara pasangan,
adanya ketakutan atau rasa cemas dalam berhubungan seks, dan lain-lain.
H.
Beberapa Masalah yang Berhubungan dengan
Seksualitas
·
Penganiayaan
seksual :
1. Mencakup tindak kekerasan pada wanita, pelecehan seksual, perkosaan,
pedofilia, pornografi anak
2. Efek traumatik --- masalah fisik dan psikologis --- disfungsi seksual. Contoh
: Ibu yang yang mengalami
penganiayaan selama masa kehamilan cenderung melahirkan anak dengan berat badan
lahir rendah.
3. Anak-anak yang mengalami penganiayaan dapat berisiko terhadap masalah
kesehatan, emosional, kinerja di sekolah dan dapat terjadi peningkatan
keagresifan dan menjadi orang dewasa yang suka melakukan tindak kekerasan.
4. Dukungan perlu diberikan kepada korban dan keluarga. Pelaku penganiayaan
harus dilaporkan kepada yang berwenang.
·
Aborsi
1.
Dilakukan oleh wanita yang telah
menikah maupun oleh wanita yang berhubungan seks sebelum nikah
2.
Kontroversi baik yang pro maupun
kontra
3.
Klien mungkin dapat mangalami
rasa bersalah dan berduka
·
Penyakit
menular seksual (PMS) :
1.
Individu terlibat dalam melakukan
hubungan seksual
2.
PMS ditularkan dari individu yang
terinfeksi kepada pasangannya selama kontak seksual yang intim. --- Tempatpenularannyabiasanya genital, tetapimungkin juga tertularmelalui
oral-genital atau anal-genital.
3.
Penyakit Gonorrea, Klamidia,
Sífilis --- disebabkanolehbakteri
4.
Penyakit Herpes genital dan HIV/AIDS
--- oleh virus
I.
Penyakit/Stress yang Akan
Mempengaruhi Seksualitas Seseorang
1. Nyeri kronis
2. Diabetes
melitus
3. Penyakit
kardio vaskular
4. Penyakit-penyakit
sendi
5. Pembedahan/
body image
6. Gangguan
mental
7. Penyakit
menular seksual
8. Obat-obatan
J. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Masalah Seksual
1. Perkembangan
manusia berpengaruh terhadap psiko-sosial, emosional, dan biologis
2. Kultur /
budaya : berpakaian,tata cara pernikahan, perilaku yang diharapkan sesuai norma. Peran laki-laki dan perempuan
mungkin juga akan dipengaruhi budaya
3. Nilai-nilai
Realigi :Aturan atau batasan yang boleh
dan tidak boleh dilakukan terkait seksualitas. Misalnya larangan aborsi,
hubungan seks tanpa nikah
4. Status
Kesehatan : Klien dapat mengalami penurunan
keinginan seksual karena alasan fisik. Medikasi dapat mempengaruhi keinginan
seksual. Citra tubuh yang buruk, terutama ketika diperburuk oleh perasaan
penolakan atau pembedahan yang mengubah bentuk tubuh, dapat menyebabkan klien
kehilangan perasaannya secara seksual.
5. Hospitalisasi
:
·
Kesepian, tidak lagi memiliki
privasi, merasa tidak berguna.
·
Beberapa klien di rumah sakit
mungkin dapat berperilaku secara seksual melalui pengucapan
kata-kata kotor, mencubit,dll
·
Klien yang mengalami pembedahan
dapat merasa kehilangan harga diri dan perasaan kehilangan yang mencakup
maskulinitas dan femininitas.
K. Masalah keperawatan Pada Seksualitas
Masalah keperawatan yang terjadi pada kebutuhan
seksual adalah pola seksual dan perubahan disfungsi seksual. Pola seksual
mengandung arti bahwa suatu kondisis seorang individu mengalami atau berisiko
mengalami perubahan kesehatan seksual, sedangkan kesehatan sendiri adalah
integrasi dari aspek somatic, emosional, intelektual, dan social dari
keberadaan seksual yang dapat meningkatkan rasa cinta, komunikasi, dan kepribadian.
Disfungsi seksual adalah keadaan dimana seseorang mengalami atau berisiko
mengalami perubahan fungsi seksual yang negative, yang di pandang sebagai tidak
berharga dan tidak memadainya fungsi seksual.
L.
Asuhan Keperawatan Pada Masalah
Seksual
a. Pengkajian
Keperawatan
·
Riwayat seksual
·
Klien yang menerima perawatan
kehamilan, PMS, infertility, kontrasepsi.
·
Klien yang mengalami disfungsi seksual /
problem (impoten, orgasmic dysfuntion, dll)
·
Klien yang mempunyai penyakit-penyakit yang akan
mempengaruhi fungsi seksual(peny.jantung, DM, dll)
·
Pengkajian seksual mencakup :
o
RiwayatKesehatanseksual
Pertanyaan yang
berkaitandenganseksuntukmenentukanapakahklienmempunyaimasalahataukekhawatiranseksual.Merasamaluatautidakmengetahuibagaimana cara mengajukanpertanyaanseksual
secara langsung – pertanyaan isyarat.
o
Pengkajian fisik
o
Inspeksi dan palpasi
o
Beberapa riwayat kes. yang memerlukan pengkajian fisik misalnya riwayat PMS, infertilitas,kehamilan,
adanya sekret yang tdk normal dari genital, perubahan warna pada genital, gangguan
fungsi urinaria,dll.
o
Identifikasi klien yang
berisiko
Klien yang berisiko mengalami gangguan seksual misalnya : adanya gangguan struktur/fungsi tubuh akibat trauma,
kehamilan, setelah melahirkan, abnormalitas anatomi genital
o
Riwayat penganiayaan seksual,
penyalahgunaan seksual
o
Kondisi yang tidak menyenangkan
seperti luka bakar, tanda lahir, skar (masektomi) dan adanya ostomi pada tubuh
o
Terapi medikasi spesifik yang
dapat menyebabkan mslh seksual; kurangnya pengetahuan/salah informasi tentang
fungsi dan ekspresi seksual
o
Gangguan aktifitas fisik sementara maupun
permanen ; kehilangan pasangan
o
Konflik nilai-nilai antara
kepercayaan pribadi dengan aturan religi
b. Diagnosa
Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat terjadi pada masalah
kebutuhan seksual, antara lain :
1. Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan
§ Ketakutan tentang kehamilan
§ Efek antihipertensi
§ Depresi terhadap kematian atau perpisahan dengan pasangan
2. Disfungsi seksual
§ Cedera medulla spinalis
§ Penyakit kronis
§ Nyeri
§ Ansietas mengenai penempatan di rumah perawatan atau panti
3. Gangguan citra tubuh
§ Efek masektomi atau kolostomi yang baru dilakukan
§ Disfungsi seksual
§ Perubahan pasca persalinan
4. Gangguan harga diri
§ cedera medulla spinalis
§ penyakit kronis
§ nyeri
§ ansietas mengenai penempatan di rumah perawatan atau panti
Masalah seksual juga dapat
menjadi etiologi diagnosa keperawatan yang lain misalnya :
ü Kurang pengetahuan (mengenai konsepsi, kontrasepsi, perubahan seksual
normal) b.d salah informasi dan mitos-mitos seksual
ü Nyeri berhubungan dengan tidak adekuatnya lubrikasi vagina atau efek pembedahan
genital
ü Cemas berhubungan dengan kehilangan fungsi seksual
c. Perencanaan
Keperawatan
Tujuan yg akan dicapai terhadap
masalah seksual yg dialami klien, mencakup :
ü Mempertahankan, memperbaiki atau meningkatkan kesehatan seksual
ü Meningkatkan pengetahuan seksualitas dan kesehatan seksual
ü Mencegah terjadinya/menyebarnya PMS
ü Mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan
ü Meningkatkan kepuasan terhadap tingkat fungsi seksual
ü Memperbaiki konsep seksual diri
d. Implementasi
ü Promosi kesehatan seksual -- penyuluhan / pendidikan kesehatan.
ü Perawat : keterampilan komunikasi yg baik,
lingkungan&waktu yg mendukung privasi dan
kenyamanan klien.
ü Topik tentang penyuluhan tergantung karakteristik&faktor yang berhubungan --- pendidikan tentang perkembangan normal pada
anak usia todler, kontrasepsi pd klien usia subur, serta pendidikan ttg PMS
pada klien yang memiliki pasangan seks lebih dari satu.
ü Rujukan mungkin diperlukan
e. Evaluasi Keperawatan
ü Evaluasitujuan yang telahditentukan dalam perencanaan. Jikatidaktercapai,
perawatseharusnyamengeksplorasialasan-alasantujuantersebuttidaktercapai --- Pengungkapanklienataupasangan,
kliendapatdimintamengungkapkankekuatiran, danmenunjukkanfaktorrisiko,
isyaratperilakusepertikontak mata, ataupostur yang
menandakankenyamananataukekuatiran.
ü Klien, pasangan dan
perawatmungkinharusmengubahharapanataumenetapkanjangkawaktu yang
lebihsesuaiuntukmencapaitujuan yang ditetapkan.
ü Komunikasiterbuka dan hargadiri yang positif
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kebutuhan seksual merupakan kebutuhan dasar manusia
berupa ekspresi perasaan dua orang individu secara pribadi yang saling
menghargai, memerhatikan, dan menyayangi sehingga terjadi sebuah hubungan
timbal balik antara dua individu tersebut. Pada saat ini perilaku seksual telah
beranjak dari posisi nilai moral menjadi budaya. Dengan kata lain, jika
sebelumnya seks sarat dengan kaidah moral, sekarang seks telah merambah ke
segala penjuru kehidupan sebagai gaya hidup yang nihil moralitas.
B. Saran
Perawat sebagai role model maka :
1. Sikap,
prasangka terhadap seksual akan dapat dibaca oleh klien, melalui cara perawat
bertindak, berbicara, menghindar, dan pada waktu berbicara.
2. Tingkat pengetahuan
perawat tentang seksualitas, menghambat / meningkatkan diskusi.
3. Pengetahuan
tentang anatomi dan fisiologi organ reproduksi, respon seksual, ekspresi
seksual dapat membantu pengkajian yang efektif.
4. Perawat
harus merasa nyaman dengan dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
lib.ui.ac.id/file?file=digital/128696-T%2026716-Pola%20adaptasi...pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar