BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Setiap individu pasti pernah
mengalami nyeri dalam tingkatan tertentu. Nyeri merupakan alasan yang paling
umum orang mencari perawatan kesehatan. Individu yang merasakan nyeri merasa
menderita dan mencari upaya untuk menghilangkannya.
Perawat meggunakan berbagai
intervensi untuk dapat menghilangkan nyeri tersebut dan mengembalikan
kenyamanan klien. Perawat tidak dapat melihat dan merasakan nyeri yang dialami
oleh klien karena nyeri bersifat subjektif. Tidak ada dua individu yang
mengalami nyeri yang sama dan tidak ada kejadian nyeri yang sama menghasilkan
respon yang identik pada seseorang.
Nyeri terkait erat dengan kenyamanan
karena nyeri merupakan faktor utama yang menyebabkan ketidaknyamanan pada
seorang individu. Pada sebagian besar klien, sensasi nyeri ditimbulkan oleh
suatu cidera atau rangsangan yang cukup kuat untuk berpotensi mencederai. Bagi
dokter nyeri merupakan masalah yang membingungkan. Tidak ada pemeriksaan untuk
mengukur atau memastikan nyeri.Dokter hampir semata-mata mengandalkan
penjelasan dari pasien tentang nyeri dan keparahannya. Nyeri alasan yang paling
sering diberikan oleh klien ditanya kenapa berobat.
Dampak nyeri pada perasaan sejahtera
klien sudah sedemikian luas diterima sehingga banyak institusi sekarang
menyebut nyeri “tanda vital kelima”, dan mengelompokkannya dengan tanda-tanda
klasik suhu, nadi, pernapasan, dan tekanan darah.
Perawat menghabiskan lebih banyak waktunya bersama pasien
yang mengalami nyeri
dibanding tenaga professional perawatan kesehatan lainnya
dan perawat mempunyai kesempatan untuk membantu menghilangkan nyeri dan efeknya
yang membahayakan. Peran pemberi perawatan primer adalah untuk mengidentifikasi
dan mengobati penyebab nyeri dan meresepkan obat-obatan untuk menghilangkan
nyeri. Perawat tidak hanya berkolaborasi dengan tenaga professional kesehatan
lain tetapi juga memberikan intervensi pereda nyeri, mengevaluasi efektivitas
intervensi pereda nyeri, mengevaluasi efektivitas intervensi, dan bertindak
sebagai advokat pasien saat intervensi tidak efektif. Selain itu, perawat
berperan sebagai pendidik untuk pasien dan keluarga, mengajarkan mereka untuk
mengatasi penggunaan analgetik atau regimen pereda nyeri oleh mereka sendiri
jika memungkinkan
1.2 Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan Nyeri ?
2. Menjelaskan
Fisiologi nyeri ?
3. Menjelaskan
mengenai Stimulasi Nyeri ?
4. Menjelaskan
klasifikasi Nyeri?
5. Menjelaskan Teori-teori nyeri ?
6. Menjelaskan
Faktor-faktor Penyebab nyeri?
7. Bagaimana
Asuhan Keperawatan pada masalah Nyeri?
1.3 Tujuan Penulis
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui
:
1.
Definisi
mengenai Nyeri
2.
Fisiologi
Nyeri
3.
Mengenai
stimulasi nyeri
4.
Klasifikasi
nyeri
5.
Teori-teori
mengenai Nyeri
6.
Faktor-faktor
Penyebab Nyeri
7.
Asuhan
Keperawatan pada masalah Nyeri
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Nyeri merupakan
kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subjektif karea
perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkahnya,dan
hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau menegvaluasi rasa nyeri
yang dialaminya. Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang
tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun
potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.Berikut
adalah pendapat dari para ahli mengenai pengertian nyeri :
1.
Mc Coffery (1979), mendefinisikan nyeri
sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang yang keberadaannya diketahui
hanya jika orang tersebut pernah mengalaminya.
2.
Wolf Weifsel Feust (1974),mengatakan
bahwa nyeri merupakan suatu perasaan menderita secara fisik dan mental atau
perasaan yang bisa menimbulkan ketegangan.
3.
Arthur C. Curton (1983), menyatakan bahwa
nyeri merupakan suatu mekanisme produksi bagi tubuh ,timbul ketika jaringan
sedang dirusak,dan menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan
rangsangan nyeri.
4.
Scrumum ,mengartikan nyeri sebagai suatu
keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik maupun dari
serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik,fisologis,dan
emosional.
2.2 Fisiologi
Nyeri
Nyeri berkaitan dengan
reseptor dan adannya rangsangan.Reseptor nyeri adalah nociceptor,merupakan ujung-ujung
saraf sangat bebas yang memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki myelin yang
tersebar pada kulit dan mukosa,khususnya pada visera,persendian,dinding
arteri,hati,dan kandungan empedu.Reseptor nyeri memberikan respons akibat
adanya stimulasi atau rangsangan. Stimulasi dapat berupa zat kimiawi berupa
histamine,bradikinin,prostaglandin,dan macam-macam asam yang dilepas apabila
terdapat kerusakan pada jaringan akibat kekurangan oksigenasi.Stimulasi lain
berupa temal,listrik,dan mekanis.
Stimulasi
yang diterima oleh reseptor ditransmisikan berupa impuls-implus nyeri ke sumsum
tulang belakang oleh dua jenis serabut yang bermyelin rapat atau serabut A
(delta) dan serabut lambat (serabut C).Impuls-impuls yang ditransmisikan oleh
serabut A bersifat inhibitor yang ditransmisikan ke serabut C.Serabut-seraut
aferen masuk ke spinal melalui akar dorsal(dorsal root) serta sinaps pada
dorsal horn.Dorsal Horn terdiri atas beberapa lapisan atau laminae yang saling
bertautan.Diantara lapisan dua dan tiga berbentuk substantia gelatinosa yang
merupakan saluran utama impuls.Kemudian impuls nyeri menyeberangi sumsum tulang
belakang pada interneuron dan bersambung kejalur spinal asenden yang paling
utama,yaitu jalur spinothalamic tract (STT) dan jalur spinoreticular tract
(SRT) yang membawa informasi tentang sifat dan lokasi nyeri.Dari proses
transmisi terdapat dua jalur mekanisme terjadinya nyeri yaitu jalur opiate dan
jalur nonopiate.Jalur opiate ditandai oleh pertemuan reseptor pada otak yang
terdiri atas jalur spinal desendens dari thalamus yang melaluiotak tengah dan
medulla ke tanduk dorsal dari sumsum tulang belakang yang berkonduksi dengan
nociceptor impuls supresif.Serotonin merupakan neurotransmitter dalam impuls
supresif.Sistem supresif lebih mengaktifkan stimulasi nociceptor dari serabut
A.Jalur nonopiate merupakan jalur desenden yang tidak memberikan respons
terhadap naloxone yang kurang banyak mengetahui mekanisme(Barbara C .Long
,1989)
2.3
Stiumulus Nyeri
Seseorang dapat
mentolerir,menahan nyeri (pain tolerance),atau dapat mengenali jumlah stimulus
nyeri sebelum merasakan nyeri (pain threshold).Terdapat beberapa jenis stimulus
nyeri diantaranya:
1. Trauma
pada jaringan tubuh ,misalnya karena bedah akibat terjadinya kerusakan jaringan
dan iritasi secara langsung pada reseptor
2. Gangguan
pada jaringan tubuh,misalnya karena edema akibat terjadinya penekanan pada
reseptor nyeri
3. Tumor,dapat
juga menekan reseptor nyeri
4. Iskemia
pada jaringan,misalnya terjadi blockade pada arteria koronaria yang menstimulasi
reseptor nyeri akibat tertumpuknya asam laktat
5.
Spasme otot ,dapat menstimulasi mekanik
2.4 Klasifikasi Nyeri
Nyeri itu bermacam-macam dan dapat
dikelompokkan menjadi :
1. Berdasarkan
Tempat Nyeri
1.
Periferal Pain. Periferal pain ini
terbagi menjadi 3 yaitu nyeri permukaan (superfisial pain), nyeri dalam (deep
pain), nyeri alihan (reffered pain). Nyeri alihan ini maksudnya adalah nyeri
yang dirasakan pada area yang bukan merupakan sumber nyerinya
2.
Central Pain. Nyeri ini terjadi
karena perangsangan pada susunan saraf pusat, spinal cord, batang otak.
3.
Psychogenic Pain. Nyeri ini
dirasakan tanpa adanya penyebab organik, tetapi akibat dari trauma psikologis.
4.
Phantom Pain. Phantom Pain ini
merupakan perasaan pada bagian tubuh yang sudah tak ada lagi, contohnya pada
amputasi. Phantom pain timbul akibat dari stimulasi dendrit yang berat
dibandingkan dengan stimulasi reseptor biasanya. Oleh karena itu, orang
tersebut akan merasa nyeri pada area yang telah diangkat.
5.
Radiating Pain. Nyeri yang dirasakan
pada sumbernya yang meluas ke jaringan sekitar.
2.
Berdasarkan Sifat Nyeri
1.
Insidentil.
Yaitu sifat nyeri yang timbul sewaktu-waktu dan kemudian menghilang
2.
Steady.
Yaitu sifat nyeri yang timbul menetap dan dirasakan dalam waktu yang lama
3.
Paroxysmal.
Yaitu nyeri yang dirasakan berintensitas tinggi dan kuat sekali dan biasanya
menetap selama 10 – 15 menit, lalu menghilang dan kemudian timbul kembali
4.
Intractable Pain. Yaitu sifat nyeri
yang resisten dengan diobati atau dikurangi. Contoh pada arthritis, pemberian
analgetik narkotik merupakan kontraindikasi akibat dari lamanya penyakit yang
dapat mengakibatkan kecanduan
3.
Berdasarkan Berat Ringannya Nyeri.
1.
Nyeri Ringan yaitu nyeri yang berada
dalam intensitas yang rendah.
2.
Nyeri Sedang yaitu nyeri yang
menimbulkan suatu reaksi fisiologis dan juga reaksi psikologis
3.
Nyeri Berat yaitu nyeri yang berada
dalam intensitas yang tinggi.
4.
Berdasarkan waktu serangan
1.
Nyeri
Akut. Nyeri akut biasanya berlangsung singkat,mendadak yang tidak melebihi 6
bulan dan ditandai dengan adanya peningkatan tegangan otot misalnya nyeri pada
fraktur. Klien yang mengalami nyeri akut pada umumnya akan menunjukkan
gejala-gejala antara lain : respirasi meningkat, Denyut jantung dan Tekanan
darah meningkat, dan pallor.
.
2. Nyeri Kronis Nyeri Kronis. Nyeri kronis berkembang lebih
lambat dan terjadi dalam waktu lebih lama dan pada umumnya penderita sering
sulit mengingat sejak kapan nyeri mulai dirasakan.
5.
Berdasarkan sumbernya
1.
Cutaneus/ superfisial, yaitu nyeri yang mengenai kulit/ jaringan
subkutan. Biasanya bersifat burning (seperti terbakar). Contohnya adalah terkena ujung pisau atau
gunting
2.
Deep somatic/ nyeri dalam, yaitu nyeri yang muncul dari ligament,
pemb. Darah, tendon dan syaraf, nyeri menyebar & lebih lama drpd cutaneus .
contohnya adalah sprain sendi
contohnya adalah sprain sendi
3.
Visceral (pada organ dalam),
stimulasi reseptor nyeri dlm rongga abdomen, cranium dan thorak. Biasanya
terjadi karena spasme otot, iskemia, regangan jaringan
2.5 Teori Nyeri
Terdapat beberapa teori tentang terjadinya
nyeri,diantarnya (Barbara C.Long ,1989) :
1.
Teori Pemisahan (Specificity
Theory).
Menurut teori pemisahan arau
specificity theory bahwa rangsangan sakit masuk ke medulla spinalis (Spinal
Cord) melalui kornu dorsalis yang bersinaps didaerah posterior,kemudian naik ke
tractus lissur dan menyilang di garis median ke sisi lainnya,dan berakhir di
korteks sensoris tempat rangsangan nyeri tersebut diteruskan.
2.
Teori Pola (Pattern Theory)
Pada teori pola atau pattern theory
bahwa rangsangan nyeri masuk melalui akar ganglion dorsal ke medulla spinalis
dan merangsang aktivitas sel T. Hal ini mengakibatkan suatu respons yang
merangsang ke bagian yang lebih tinngi,yaitu korteks serebri serta kontraksi
menimbulkan persepsi dan otot berkontraksi sehingga menimbulkan nyeri.Persepsi
dipengaruhi oleh modalitas respons dari reaksi sel T.
3.
Teori Pengendalian Gerbang (Gate
Control Theory) .
Menurut teori pengendalian gerbang ialah nyeri tergantung
dari kerja serat saraf besar dan kecil yang keduanya berada dalam akar ganglion
dorsal.Rangsangan pada serat saraf besar
akan meningkatkan aktivitas
substansia gelatinosa yang mengakibatkan tertutupnya pintu mekanisme
sehingga sel T terhambat dan menyebabkan hantaran rangsangan ikut terlambat.
Rangsangan serat besar dapat langsung meragsang korteks serebri.Hasil persepsi
ini akan dikembalikan kedalam medulla spinalis melalui serat aferen dan
reaksinya mempengaruhi aktivitas sel T. Rangsangan pada serat kecil akan
menghambat aktivitas substansia gelatinosa dan membuka pintu mekanisme,sehingga
rangsangan aktivitas sel T yang selanjutnya akan menghantar rangsangan nyeri.
4.
Teori Transmisi dan inhibisi
Menurut teori ini bahwa adanya stimulus pada nocieptor
memulai transmisi impuls-impuls saraf,sehingga transmisi impuls nyeri menjadi
efektif oleh neurotransmitter yang spesifik.Kemudian , inhibisi impuls nyeri
menjadi efektif oleh impuls-impuls pada serabut - serabut besar yang memblok
impuls-impuls pada serabut lambat dan endogen opiate sistem supresif
2.6 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Nyeri
Pengalaman nyeri pada seseorang dapat dipengaruhi oleh
beberapa hal,diantarnya adalah :
1. Arti Nyeri .
Arti Nyeri bagi seseorang memiliki
banyak perbedaan dan hampir sebagian arti nyeri merupakan arti yang negative
seperti membahayakan,merusak dan lainnya.Keadaan ini dipengaruhi oleh beberapa
factor seperti usia,jenis kelamin,latar belakang social budaya,lingkungan ,dan
pengalaman.
2.
Persepsi Nyeri
Persepsi nyeri merupakan penilaian
yang sangat subjektif tempatnya pada korteks (pada fungsi evaluative
kognitif).Persepsi ini dipengaruhi oleh factor yang dapat memicu stimulasi
nociceptor.
3.
Toleransi Nyeri
Toleransi ini erat hubungannya
dengan intensitas nyeri yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang menahan
nyeri.Faktor yang dapat memengaruhi peningkatan toleransi nyeri antara lain
alcohol,obat-obatan,hipnotis,gesekan atau garukan,pengalihan
perhatian,kepercayaan yang kuat,dan sebagainya.Sedangkan factor yang mengurangi
toleransi diantarnya ialah kelelahan,rasa marah ,bosan,cemas,nyeri yang tidak
kunjung hilang,sakit dan lain-lain.
4.
Reaksi terhadap Nyeri
Reaksi terhadap Nyeri merupakan respons seseorang terhadap
nyeri,seperti ketakutan,gelisah ,cemas,menangis ,dan menjerit.Semua ini
merupakan bentuk respons yang dapat dipengarauhi oleh beberapa factor seperti
arti nyeri,tingkat persepsi nyeri,pengalaman masa lalu,nilai budaya,harapan
social,kesehatan fisik dan mental,rasa takut,cemas,usia,dan lain-lain.
2.7
Asuhan Keperawatan Pada Rasa Nyeri
A.
Pengkajian Keperawatan
Pengkajian
pada masalah nyeri yang dapat dilalukan adalah adanya riwayat nyeri ,keluhan
nyeri seperti lokasi nyeri,intensitas nyeri,kualitas,dan waktu
serangan.Pengkajian dapat dilakukan dengan cara PQRST:
1.
P
(Pemacu),yaitu factor yang mengetahui gawat atau ringannya nyeri
2.
Q (Quality) dari nyeri ,seperti
apakah rasa tajam,tumpul,atau tersayat
3.
R (Region),yaitu daerah perjalanan
nyeri
4.
S
(Severity) adalah keparahanatau intensitas nyeri
5.
T
(Time) adalah lama / waktu serangan atau frekuensi nyeri
Intensitas nyeri
dapat diketahui dengan bertanya kepada pasien melalui skala nyeri berikut :
|
SKALA
NYERI
Tidak Nyeri
Sedikit Nyeri
Sedang Parah/Berat
Tidak Nyeri
Ringan Sedang Parah Separah-parahnya
0 : Tidak Nyeri 0 : Tidak Nyeri 0 : Tidak Nyeri
1 : Nyeri Ringan 1 : Nyeri Ringan 1 : Sedikit Nyeri
2 : Tidak Nyaman 2 : Nyeri Sedang 2 : Nyeri Sedang
3 : Mengganggu 3 : Nyeri Parah 3 : Nyeri Parah
4 : Sangat Mengganggu 4 : Nyeri sangat parah
5
: Nyeri Paling Parah
|
||||||||||
B.
Diagnosa Keperawat
Terdapat
beberapa diagnose yang berhubungan dengan masalah nyeri,diantaranya :
1.
Nyeri akut akibat fraktur panggul
2.
Nyeri kronis akibat arthritis
3.
Gangguan mobilitas akibat nyeri pada
ekstremitas
4.
Kurang perawatan diri akibat
ketidakmampuan menggerakan tangan yang disebabkan oleh nyeri persendian
5.
Cemas akibat ancaman peningkatan
nyeri
C.
Perencanaan Keperawatan
1.
Mengurangi dan membatasi
faktor-faktor yang menambah nyeri
2.
Menggunakan berbagai teknik
noninvasive untuk memodifikasi nyeri yang dialami
3.
Menggunakan cara-cara untuk
mengurangi nyeri yang optimal,seperti memberikan analgesic sesuai dengan
program yang ditentukan
D.
Pelaksanaan (Tindakan ) Keperawatan
1.
Mengurangi factor yang dapat
menambah nyeri,misalnya ketidakpercayaan,kesalahpahaman,ketakutan,dan
kebosanan.
·
Ketidakpercayaan .
Pengkuan
perawat akan rasa nyeri yang diderita pasien terhadapp mengurangi nyeri.Hal ini
dapat dilakukan melalui pernyataan
verbal,mendengarkan dengan penuh perhatian mengenai keluhan pasien,dan
mengatakan kepada pasien bahwa perawat mengkaji rasa nyeri pasien agar dapat
lebih mudah memahami tentang nyerinya
·
Kesalahpahaman .
Mengurangi
kesalahpahaman pasien tentang nyerinya akan mengurangi nyeri.Hal ini dilakukan
dengn memberitahukan bahwa rasa nyeri yang dialami pasien sangat individual dan
hanya pasien saja yang mengetahui akan rasa nyerinya.
·
Ketakutan.
Memberitahukan
informasi yang tepat dapat mengurangi ketakutan pasien dengan menganjurkan
pasien untuk mengekspresikan bagaimana pasien menangani nyeri
·
Kelelahan.
Kelelahan
dapat memperberat rasa nyeri.Untuk mengatasinya, kembangkan pola aktivitas yang
dapat memberikan istirahat yang cukup
·
Kebosanan
Kebosanan dapat meningkatkan
nyeri.Untuk mengurangi nyeri digunanakan pengalihan perhatian bersifat
terapeutik.Beberapa macam teknik pengalihan perhatian ialah bernapas pelan dan
berirama,memijat secara perlahan,menyanyi berirama,aktif mendengarkan musik,membayangkan
hal-hal yanag menyenangkan dan sebagainya.
2.
Memodifikasi stimulus nyeri dengan
menggunakan teknik berikut :
·
Teknik pengalihan perhatian
-
Menonton televise
-
Berbincang-bincang dengan orang lain
-
Mendengarkan musik
·
Teknik Relasasi
Menganjurkan pasien untuk mengambil
napas dalam kemudian menegmbuskannya
secara perlahan ,melemaskan otot-otot tangan ,kaki,perut,penggung
,serta mengurangi hal yang sama sambil
terus berkonsentrasi hingga didapat rasa nyaman,tenang ,dan rileks
·
Stimulus kulit
-
Menggosok dengan halus pada daerah
nyeri
-
Menggosok punggung
-
Menggunakan air hangat dan dingin
-
Memijat dengan air mengalir
-
3.
Pemberian obat analgesik
Pemberian
obat ini dapat dilakukan untuk mengganggu dan memblok transmisi stimulus agar
terjadi perubahan persepsi dengan cara mengurangi kortikal terhadap nyeri.Jenis
analgesik adalah narkotika yang digunakan untuk mengurangi tekanan darah dan
menimbulkan depresi pada fungsi vital seperti respirasi .Jenis bukan
narkotika yang banyak dikenal adalah
aspirin,asetaminofen,dan bahan antiinflasi nonsteroid.Golongan
aspirin(asetysalicylic acid) digunakan unuk memblok rangsangan pada sentral dan
perifer ,kemungkinan menghambat sintesis prostaglandin yang memiliki khaiat
setelah 15 smpai 20 menit dengan efek puncak obat 1 sampai 2 jam.Aspirin juga
menghambat agregasi trombosit dn
antagonis rendah terhadap vitamin
K,sehingga dapat meningkatkan perdarahan, dan protombin bila diberikan dalam dosis yang tinggi.Golongan asitaminofen
sama seperti aspirin,akan tetapi tidak menimbulkan perubahan kadar protombin
dan jenis nonsteroid anti inflammatory drug (NSAID),juga menghambat prostaglandin
dan dosis rendah berfungsi sebagai analgesik .Kelompok obat ini meliputi
ibuprofen,mefematic acid, fenoprofen , naprofen, zomepirac,dan lainnya
4.
Pemberian stimulator listrik
Pemberian
stimulator listrik dengan memblok atau mengubah stimulus nyeri dengan stimulus
yang kurang dirasakan.Bentuk stimulator metode listrik diantaranya :
·
Transcutaneus electrical stimulator
(TENS),digunakan untuk mengendalikan stimulus manual daerah nyeri tertentu
dengan menempatkan beberapa electrode di luar.
·
Percutaneus implanted spinal cord
epidural stimulator merupakan alat stimulator sumsum tulang belakang dan
epidural yang diimplan dibawah kulit ddengan transistor timah penerima yang
ddimasukkan kedalam kulit pada daerah epidural dan columna vertebrae
·
Stimulator columna vertebrae ,sebuah
stimulator dengan stimulus penerima transistor dicangkok melalui kantong kulit
intraclavicula atau abdomen ,yaitu
electrode ditanam melalui pembedahan pada dorsum sumsum tulang belakang.
E.
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi terhadap masalah nyeri
dapat dilakukan dengan menilai kemampuan dalam merespons rangsangan
nyeri,diantaranya hilangnya perasaan nyeri,menurunnya intensitas nyeri,adanya
respons fisiologi yang baik,dan passion mampu melakukan aktivitas sehari-hari
tanpa keluhan nyeri.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULANNyeri merupakan suatu gejala yang bersifat ojektif .hanya orang yang merasakan yang bisa mengungkapkan.kebutuhan dasar manusia untuk memenuhi rasa yang tidak nyaman atau nyeri ini,perawat perlu memperhatiakn ,mengkaji konsep dasar nyeri pada klien yangmengalami gngguan keamaman.
Saran
Semoga dengan memahami konsep dasar nyeri ini .kita bisa menerapkan dan membagi ilmu dalam menyelesaikan masalah gengguan tidak nyaman ini dalan kehidupan .
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar