Hari ini terhitung sudah hari kedua
sejak aku harus berkutat di ruangan aula Kadic Academy. Sebagai salah satu siswa yang ditunjuk untuk
mempersiapkan pesta prom yang akan dilaksanakan minggu
depan, aku bekerja cukup keras agar hasilnya sempurna sesuai yang kuharapkan.
Bukannya aku sombong karena tidak mau dibantu oleh yang lainnya, tapi
mereka
memang tidak tahu apa-apa mengenai musik! Jadi, daripada harus direpotkan oleh
para amatiran ‘tidak berguna’ itu, aku, William Dunbar lebih memilih bekerja
sendiri.
“Cek, cek, cek ….”
“1,2,3, cek ….”
Aku mengetuk-ngetuk mikropon kecil di meja untuk memastikan sound system yang akan kupakai masih
dalam kondisi baik.
“Dasar rongsokan!” Kumaki keras mikropon yang ada di
genggaman tanganku. Bukan. Sebenarnya bukan mikropon yang jadi masalah.
Melainkan sound system tua yang ada
di bawah jendela ruangan aula ini. Suara yang dihasilkannya sangat buruk dan
berdenging di kedua gendang telingaku.
Kuambil obeng kecil di meja lalu
melangkah—menghentakkan
kakiku—keras menuruni
tangga panggung dan mendekati sound
system yang tergeletak tak berdaya. Baru saja aku bermaksud untuk menunduk
dan memeriksa kerusakan pada alat elektronik berukuran cukup besar ini saat
tiba-tiba kedua mataku menangkap sosok seorang gadis berambut hitam sebahu
dengan kaos dan celana panjang serba hitam dari balik jendela. Ia tengah
berdiri membelakangiku—membelakangi
gedung aula—dan
melambaikan kedua tangannya entah pada siapa.
“YU—“ Aku
bermaksud untuk memanggilnya. Tapi segera kuurungkan niat awalku itu ketika
melihat sosok lain yang berlari ke arahnya. Dia … Ulrich Stern. Adik kelasku
dan juga rivalku dalam hal mencuri perhatian Yumi Ishiyama yang notabennya adalah teman satu
angkatan denganku.
Aku masih terdiam mengamati mereka dari balik jendela. Anak
itu … benar-benar pengganggu. Tapi, aku tak dapat menyangkal kenyataan bahwa
Yumi—satu-satunya
wanita yang kusukai—justru
menyukai anak bersurai coklat tersebut yang tingginya bahkan hanya mencapai
bahunya.
“Em, Yumi ….”
“Ia, Ulrich.”
“Kau … mau tidak … emb jadi … jadi …” Ulrich berkata dengan
suara yang terputus-putus. Uh, aku sudah tahu apa yang akan ia katakan. Dasar
bocah! Ia bahkan tak dapat berbicara layaknya lelaki!
Dan lagi … Yumi, ia justru terlihat sangat tak sabar
mendengar lanjutan perkataan Ulrich. “Jadi? Jadi apa, Ulrich?”
“Jadi … jadi
pasanganku saat pesta dansa nanti?” ujar Ulrich akhirnya, setelah hampir lima
menit ia menunduk diam.
“Tentu saja … Ul-rich-Stern!” jawab Yumi cepat dan langsung
memeluk anak itu. Nada suaranya terdengar sangat bahagia begitu juga hatinya.
Tanpa sadar kugenggam obeng di tanganku dengan keras—hingga menimbulkan lecet akibat
tekanan kuku ke tangkai obeng. Kesal. Benci. Cemburu. Semua melebur menjadi satu
perasaan yang begitu mengganggu.
Pun aku sadar betul ia tak akan pernah membuka hatinya
untukku ….
Aku tahu dan aku tetap tak perduli.
Mungkin kau akan menganggap aku buta. Yah, aku memang buta. Karena aku tetap
berharap padanya. Setidaknya berharap pada belas kasihnya.
Sampai kejadian kemarin cukup
membuktikan betapa butanya diriku!
“Aku … tidak bisa, William. Aku minta maaf,” ujar Yumi penuh
penyesalan di wajahnya. Ia menatapku kasihan.
Sebegitu kasihannya ‘kah diriku ini di matamu, eh, Yumi,
sampai kau menatapku demikian?
Hatiku sakit saat mendengarnya. Tak kuhiraukan riuh suara
siswa lain di kantin yang seakan tengah tertawa mencibirku. “Tapi, kenapa Yumi?
Apa aku kurang baik untukmu?” Aku masih berusaha keras memohon padanya untuk
menjadi teman dansaku. Bahkan dengan pose berlutut di hadapannya, persis adegan
pangeran melamar puterinya di dongeng-dongeng.
Namun bedanya, aku pangeran yang ditolak puterinya ….
“Bukan begitu, William. Aku … sudah berjanji dengan
seseorang.”
Saat itu aku langsung tahu siapa yang dia maksud. Pasti—
“Hey, Yumi! Ayo, gabung dengan kami!” teriak cempreng salah
satu siswa berambut kuning kerucut dengan corak ungu di tengahnya. Sontak kami
berdua langsung menoleh ke sumber suara.
Di sana, di ujung meja, empat orang siswa terlihat sedang
duduk mengelilingi sebuah meja segiempat yang kuketahui adalah adik kelasku
semua. Odd Della
Robbia; yang paling berisik. Jeremie Belpois; adik kelasku yang terkenal jenius
dengan kacamata bertengger di hidungnya. Seorang siswi berambut merah muda mencolok yang tak kuketahui siapa namanya.
Lalu …
—dia, Ulrich
Stern, dengan senyum bak romeo yang ia miliki.
“Iya, aku segera ke sana!” balas Yumi. Perlahan ia melepaskan
tanganku yang masih menggenggam tangannya dan berlalu pergi. “Maaf, William.”
Setelah itu aku tak mencegahnya lagi dan hanya menunduk dalam
kebisuan. Tersenyum miris pada bayangan gelap diriku sendiri.
.
.
.
Disclaimer: Code Lyoko created by Tania Palumbo &
Thomas Romain (Moonscoop)
Je t’aime toujours
is
mine!
Warning: OOC, AR/Canon, SUPERcrackpair
(WilliamAelita) Slight UlrichYumi, Oneshot
Don’t like
Don’t Read!
.
.
.
Krek, krek,
krek ….
Suara dentingan obeng dan sekrup yang saling beradu itu cukup
menggangguku. Membuatku menoleh ke bawah—ke sumber suara—dan melupakan insiden tidak mengenakkan
yang baru saja terjadi di depan mataku—walau sedikit terhalang oleh kaca
jendela.
“Sudah selesai.” Gadis bersurai merah muda mencolok itu
kemudian menengadah, menatapku yang juga tengah menatapnya. Sejenak mata kami
saling bertemu pandang.
Kuamati penampilannya dari atas sampai ke bawah. Mungkin
hanya perasaan sekilasku saja, aku merasa pernah melihatnya sebelum ini.
Gadis yang sepertinya berumur setahun di bawahku ini memakai dress selutut dengan dominan merah muda
dan sepatu yang berwarna senada rambutnya. Sedikit sulit melihatnya sih.
Mengingat gadis merah muda ini masih dalam posisi berjongkok di depan sound system.
Wajahnya terlihat serius. Gerakannya begitu gesit memasang
kembali peralatan-peralatan yang entah sejak kapan ia lepas dari tempatnya. Sempat
terbersit pikiran ragu ketika tersadar bahwa yang di depanku ini bukanlah
seorang engineer melainkan siswi
biasa. Oh, tidak! Jangan sampai ia menghancurkan peralatanku satu-satunya!
“He-Hei, apa yang kaulakukan pada sound system-ku?” —Ralat—Sound
system sekolah.
Ia
tak menanggapi pertanyaanku, jari-jarinya masih sibuk berkutat pada logam-logam
dan kabel di depannya. “Cobalah. Aku sudah memperbaiki beberapa bagian yang
rusak,” ujarnya kemudian berdiri menghadapku.
“Kenapa?”
tanyanya saat mendapatiku yang masih bergeming di tempat.
“Ti-tidak
ada,” jawabku sedikit … err gagap. Baru pertama kali aku gagap apalagi di depan
perempuan.
Uh,
William Dunbar, kau
memalukan!
Sedikit ragu aku melangkahkan kedua kakiku
menuju panggung di bagian depan aula di mana semua peralatan DJ yang kubutuhkan
telah tersusun rapi di atas meja. Ketika aku hendak meniti beberapa tangga
panggung, keraguan tiba-tiba menghantui perasaanku dan membuatku membalikkan
tubuh sekedar untuk melihat gadis merah muda yang ternyata masih tersenyum
simpul memandangku. Memandangku? Ya, ampun, William jangan terlalu narsis
begini!
“Kau …” ucapanku terpotong ketika
melihat tatapan iris matanya yang memandangku antusias.
Dahinya sedikit berkerut. “Ada
apa?”
“Tidak ada. Tidak jadi.”
Kata-kataku seketika hilang tak berbekas.
Kuraih mikropon kecil yang
bertengger manis di dekat record players.
“Satu—”Aku
berhenti. Suara ini … sangat bagus. Bahkan lebih dari yang kuharapkan
sebelumnya.
Tanpa kusadari kusungginggkan
seulas senyum padanya—sebagai
sinyal bahwa aku menyukai hasil kerjanya. Dan ia membalasku dengan senyuman
manis di bibir merah miliknya.
“Hasil kerjaku tidak buruk, ‘kan?”
tanyanya memastikan lalu berjalan menuju atas panggung—mendekat ke arahku.
“Sama sekali tidak. Ini sempurna.
Terimakasih, emb …”
“Aelita. Namaku Aelita Schaeffer.”
“William Dunbar. Salam kenal,”
sahutku lalu mengulurkan tangan kananku. Ia menatap uluran tanganku dan wajahku
bergantian.
Apa ada yang salah dengan tanganku?
“Kenapa?”
“I-itu ….” Alisnya sedikit tertekuk
menyiratkan kebingungan. “Tangan itu untuk apa?” tanyanya polos. Dagu Aelita
bergerak kecil menunjuk tanganku yang masih terulur ke arahnya.
“Pffffffffft … hahaha ….” Aku
tertawa lepas mendengarnya sampai-sampai air mata menetes dari kedua sudut
mataku tanpa kendali.
“Apa aku melakukan hal yang lucu,
William?”
Aku hanya bisa menghapus air mata
yang mengalir akibat tawa ekstrimku barusan. Tak kusangka, selain pandai dalam
hal elektronik ternyata gadis merah muda ini juga pandai melucu.
Kulihat wajahnya dari celah-celah
mataku yang masih buram akibat cairan yang dihasilkan barusan. Aelita masih
terdiam. Menunggu jawaban dariku. Kelihatannya gadis merah muda ini memang
benar-benar bingung. Dan itu berarti aku harus sedikit bersabar untuk
menjelaskan tata cara berkenalan padanya.
“Begini, kau sambut uluran tanganku
dengan tangan kananmu. Cara ini adalah cara yang sering digunakan untuk
berkenalan pertama kali.” Kubimbing tangan kanannya ke dalam genggamanku. Tangannya
begitu kecil dan … lembut. Begitu nyaman ….
“Ehm, William. Apa kita harus
berjabat tangan seperti ini selama lebih dari lima menit?” tegurnya.
“Ah, maaf.” Sontak kulepaskan
tangan kami yang sebelumnya masih bertaut erat—sebenarnya hanya aku yang
menggenggam tangannya. Sejujurnya aku sedikit tidak yakin mendengar
kata-katanya. Apa benar kami sudah berjabat tangan selama lebih dari lima
menit? Rasanya baru saja aku memegang tangannya. Atau … memang pikiranku yang
mulai kacau?
“Sebagai gantinya, bisa kau ajari
aku menjadi DJ?”
Eh?
.
.
.
“Yang bentuknya kotak ini dinamakan
record player. Ini digunakan untuk
memutar rekaman suara. Bisa juga untuk memainkan kembali rekamannya secara maju
mundur. Sedangkan lempengan bulat berwarna hitam di tengahnya ini namanya
piringan hitam. Piringan hitam ini berisi rekaman suara. Yang di sebelah sini
namanya samplers, effect processors dan slipmats. Lalu … ah, coba kamu pakai
ini, Aelita!” Kusodorkan sebuah headphone
padanya. Namun ia tak menyambutnya bahkan memandangnya asing.
“Ini untuk apa, Will?” tanyanya
sambil menunjuk headphone di
tanganku.
Aku menghela napas. Sepertinya aku
lupa dengan siapa aku berbicara. “Huh, ini digunakan untuk mendengarkan rekaman
sementara kamu memutar player yang
lain. Sini, biar kupasangkan!”
Aku bergerak ke belakang kepalanya
lalu menaruh headphone berwarna hitam
ini di kedua sisi telinganya. Tak sengaja beberapa helaian rambut merah mudanya
mengenai permukaan wajahku saat aku menyibakkannya sedikit untuk meletakkan headphone di permukaan telinganya.
Seketika wangi strawberry menguar dari serat rambutnya dan menempel pada indera
penciumanku. Aromanya … begitu manis. Begitu membuatku candu.
Tanpa sadar aku bergumam pelan, “Manis.”
“Apa?”
“Ti-tidak ada,” jawabku bohong.
Sontak tanganku langsung kutarik masuk ke dalam saku celanaku.
“Bagaimana? Apa aku cocok
memakainya?”
“Hmbbb ….” Aku terdiam sejenak
memperhatikannya. Baru kusadari bahwa rambutnya itu bukanlah aneh seperti yang
kupikirkan saat pertama kali melihatnya. Melainkan unik dan … cantik.
“Kurasa … rambutmu yang seperti
permen kapas itu sedikit mengganggu,” ungkapku bohong untuk menggodanya. Namun
ternyata responsnya di luar dugaanku.
“Dan aku lebih suka rambut permen
kapasku dibanding rambut piringan hitam milikmu,” sahutnya asal dengan senyuman
lebar di bibirnya—menyindirku.
“Hahaha ….” Entah siapa yang
memulai, setelahnya kami hanya tertawa lepas bersama. Sepertinya … hari-hariku
setelah ini akan lebih meriah karena-nya.
.
.
.
Sudah tiga hari semenjak perkenalan pertama kami
yang terasa begitu ganjil—bagiku. Dan
semenjak perkenalan ganjil itulah, hampir setiap hari kami menghabiskan waktu
di ruangan aula ini. Kegiatannya hanya ada dua; aku mengajarinya menjadi DJ dan
dia membantuku memperbaiki peralatan yang rusak. Simbiosis mutualisme, eh?
Yang pasti, aku sudah sangat candu dengan suasana ini.
Dan sangat terbiasa dengan kehadirannya di sini ….
Sampai—
Drrrt,
drrrt, drrrt ….
—suara panggilan ‘darurat’ untuknya
kembali mengusik kebersamaan kami. Aku mulai memasang wajah tidak suka ketika handphone miliknya mulai berbunyi.
Karena itu adalah tanda bahwa sudah waktunya ia harus pergi—entah untuk urusan apa.
“Iya, Jeremie.“ Hening sekilas saat suara di seberang sana
berbicara. “Aku mengerti.”
Aelita melirikku sejenak melalui ekor matanya lalu melempar
senyum seolah meminta maaf. “Will, maaf aku ada urusan sebentar,” ujarnya
dengan oktaf yang diturunkan sehingga lebih terdengar berbisik. Ia pun berlalu
pergi bahkan sebelum aku mengiyakan pernyataannya.
“Aku … akan menunggumu di sini, Aelita. Jadi, cepatlah
kembali.” Aku tersenyum hambar menatap kepergiannya dari balik pintu.
Seketika aula kembali dilanda sepi—seperti yang lalu-lalu. Tiada suara
yang terdengar, hanya hembusan napasku yang tak teratur yang menjadi
satu-satunya melodi di sini.
.
.
.
“Apa teknikku sudah benar, Will?”
“Hmb, untuk teknik audio mixing menurutku kau sudah sangat
bagus, Aelita. Hanya perlu sedikit pemanis di bagian scratching,” tanggapku.
Ia tersenyum puas mendengar
jawabanku. “Syukurlah.”
Kuamati dirinya dari arah samping.
Melihat keseriusannya itu sungguh membuatku tak dapat menyembunyikan rasa
kekaguman yang amat sangat padanya. Tak dapat dipungkiri bahwa Aelita telah
mengalami kemajuan sangat pesat hanya dalam waktu enam hari.
Hmb, kalau begini, double DJ untuk proom night kedengarannya bukan lagi ide yang buruk.
Tunggu dulu! Proom night?
Sudut-sudut bibirku mulai
terangkat. Sepertinya … aku sudah menemukan puteriku untuk pesta dansa sekolah.
Puteriku yang sesungguhnya ….
Aku baru saja akan membuka mulutku
sampai panggilan darurat itu kembali mengudara.
Drrrt,
drrrt, drrrt ….
Oh, tidak. Jangan lagi!
“Halo Jeremie? Baik, aku mengerti.”
“William aku—“
Grap ….
CUKUP! Tidak perlu dilanjutkan! Aku sudah tahu apa yang akan
kaukatakan.
Kucengkram sebelah tangannya erat—seakan takut kehilangannya.
“Kumohon, Aelita. Sebentar saja!”
Kedua iris kami saling beradu pandang. Mengabaikan
panggilan-panggilan dari seberang telepon—yang kuketahui adalah Jeremie.
‘Aelita? Aelita? Aelita cepatlah! Kita tidak punya banyak waktu lagi.’ Suara di
seberang sana terdengar semakin panik. Aku tahu ini tak bisa ditahan lebih lama
lagi.
“Aelita, izinkanlah aku menjadi pangeran proom night untukmu?” ucapku to-the-point.
Cengkraman yang sebelumnya terkesan
kasar, kini mulai kukendurkan. Perlahan, aku berlutut di hadapannya—seperti saat aku berlutut di
hadapan Yumi. Hanya saja kali ini aku merasakan darahku berdesir lebih cepat
dari biasanya. Detik itu juga kulihat wajah Aelita memerah melebihi warna
rambutnya. Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bibirnya sedikit bergerak—hendak merespons.
‘Aelita! X.A.N.A
menyerang aliran listrik sekolah! Cepat ke pabrik!’
Setelah tanda peringatan dari
Jeremie tersebut—yang
sejujurnya tak kumengerti satu pun maksudnya—tiba-tiba tubuh kami serasa dihempas ke bumi.
Lampu-lampu bergetar kuat hingga ada beberapa yang pecah dan menghunjam tubuh
kami berdua yang menempel seutuhnya di lantai. Kursi-kursi, meja maupun
benda-benda lainnya yang sudah kususun rapi di tempatnya berterbangan tak tentu
arah dan berakhir menabrak dinding aula. Semuanya hancur! Hanya sisa-sisa serpihan
sajalah yang menjadi bukti keberadaannya.
Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Badan kami serasa ditarik oleh gravitasi. Sangat kuat. Hingga rasanya seperti
dilumuri lem.
“Aelita, kita harus segera keluar dari aula!” Tanganku
masih setia menggenggam tangannya. Bahkan lebih erat. Takut ia terlepas dariku.
Ia mengangguk. Dengan tenaga yang tersisa.
Kami berdua berusaha melepaskan diri dari lantai. Rasanya begitu sulit. Lantai
ini harus dipukuli dulu beberapa saat hingga tarikannya sedikit melonggar.
Setelah tubuh kami terbebas, kaki-kaki ini langsung membimbing aku dan Aelita keluar.
Beberapa kali pecahan-pecahan lampu itu beterbangan menerjang tubuh kami.
Kami bersandar di bawah batang tubuh pohon tua.
Pekikan keras terdengar membahana dari para penghuni Kadic Academy lainnya. Mereka berhamburan tak tentu dari berbagai
penjuru. Kilatan ketakutan adalah yang pertama kali terpancar dari mata mereka.
Tiba-tiba saja kurasakan tangan (calon)
puteriku melonggar. “Maaf Will. Kau tunggu saja di sini! Aku akan segera
kembali.” Aelita tersenyum simpul kemudian segera berlari meninggalkanku.
“Aelita!”
Aku berteriak memanggil namanya, namun ia tetap bergeming dan kelihatannya
semakin mempercepat laju larinya. Sedikit saja aku terlambat maka bayangannya
akan segera menghilang dari jarak aksaku. Keningku sedikit mengerut melihat
kepalanya tenggelam di … bawah lubang saluran air belakang sekolah? Apa yang
akan dikerjakannya di sana?
Ah, apa pun itu. Aku tak perduli. Satu yang
kutahu pasti; Aelita di sana dan aku tak akan membiarkannya sendirian di saat genting
seperti ini.
.
.
.
Pikiranku semakin tak karuan. Kulihat Aelita
memasuki pabrik tua di belakang sekolah lalu menaiki sesuatu berbentuk kotak
yang sepertinya adalah lift. Kulempar
asal skateboard yang kutemukan di
pinggir saluran tadi. Aku tak tahu apa yang memengaruhi otakku sehingga sanggup
memaksaku untuk mengejarnya sampai ke tempat ini. Tampaknya otakku sudah tidak lagi
berfungsi dan hanya naluri sajalah yang menuntunku saat ini ….
Lanskap asing menyapa manakala lift yang membawaku terbuka.
Mengantarkanku ke sebuah ruangan berukuran besar dengan berbagai macam
peralatan kabel raksasa. Sebuah pertanda bahwa ruangan ini bukanlah ruangan
biasa. Sementara di tengah ruangan sosok adik kelasku yang familiar tampak terbaring
tak berdaya. Meninggalkan tiga buah komputer yang masih menampilkan gambar di
layar.
“Jeremie?” Aku berlari ke arah
tubunya yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Kuperiksa denyut nadinya dan
untunglah tiada yang ganjil di dalamnya. Ia masih hidup namun kelihatan menahan
sakit yang mendera lehernya. Garis-garis tipis di permukaan kulitnya memerah
dan terdapat beberapa bekas sidik jari. Aku yakin ada yang tidak beres di sini.
‘Jeremie, Jeremie! Jawab aku
Jeremie! Sekarang kami sudah sampai di sektor hutan. Menara yang diaktifkan ada
di sisi timur.’ Suara yang kukenal betul adalah milik Aelita tiba-tiba mengudara.
Entah darimana asalnya.
“Aelita, kau dimana?” teriakku
mencari asal suaranya barusan.
‘Wi-William?’ Suara elektronik itu kembali
mengudara.
‘K-kau kenapa di sini? Mana Jeremie?’ Aku mengerutkan kening—tak menjawab
pertanyaannya. Mataku masih sibuk memindai ruangan asing ini. Mencari asal
suaranya. Atensiku berhenti tepat pada komputer di atas kepalaku. Tampaknya
suara-suara itu berasal dari sana.
“—Aelita?
Jeremie … Jeremie, dia pingsan.” Secepat kilat aku langsung
menyambar komputer yang kuyakini adalah asal suaranya.
“…” Tak ada respons. Aku pun masih
terdiam. Menunggunya.
“Tolong jaga Jeremie, William.”
Suara Aelita terdengar melemah. Baru saja aku akan menyuarakan namanya kembali
sebelum—
—suaranya kembali memanggilku ….
“Merci beaucoup, William.” Jeda sejenak sampai kalimat berikutnya cukup
membuatku terkejut. “Kuharap kau tidak memalukan saat proom night nanti.”
Setelahnya, hanya cahaya putihlah
yang terlihat mendominasi seluruh ruangan ….
.
.
.
“Emb, Yumi …. Kau mau
tidak jadi pasanganku saat proom night?”
“Tentu saja!” jawab Yumi cepat dan langsung memeluk anak itu.
“Ck.” Aku mendecih kesal manakala lingkar kelamku menangkap
gambaran tidak menyenangkan yang tersaji di balik jendela. Ini masih pagi dan
inikah sarapan untukku?
“Sebaiknya kau perbaiki sound
system-mu daripada mengintip kegiatan orang lain di luar sana,” tegur suara
lembut kaum hawa.
Aku menoleh ke bawah dan mendapati sound system-ku sedang diutak-atik oleh seorang siswi berambut
merah muda mencolok yang tak kukenal. “He-Hei, apa yang kaulakukan pada sound system-ku?”
Ia
tak menanggapi pertanyaanku, jari-jarinya masih sibuk berkutat pada logam-logam
dan kabel di depannya. “Sudah selesai.” Gadis bersurai merah muda mencolok
itu kemudian menengadah, menatapku yang juga tengah menatapnya. Sejenak mata
kami saling bertemu pandang.
“Apa … kau tak ingin mencobanya, William?” Aku cukup kaget
mendengar kata-katanya. Darimana anak ini tahu namaku?
Tanpa perlu menanyakannya lebih
lanjut, aku lebih memilih untuk langsung menguji coba hasil kerjanya. Saat ini
aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapa pun—apalagi dengan orang asing sepertinya.
Walau terbersit rasa ragu, setidaknya aku ingin tahu kerusakan apa yang telah
dibuatnya pada peralatanku. Huh, setidaknya pelakunya masih di sini jadi akan
lebih mudah bagiku untuk meminta pertanggung jawaban darinya!
Ketika aku hendak meniti beberapa
tangga panggung, tiba-tiba gadis itu memanggil namaku untuk yang kedua kalinya.
Atau … entahlah sudah keberapa kalinya.
“Will, apa kau … menerima DJ
tambahan untuk pesta proom minggu
depan?”
“Hah?” Aku melongo bingung
mendengar kalimatnya barusan. “Apa kau bisa?”
Ia menatapku sejenak dengan tenang
sembari mengulas senyum di sudut bibirnya. “Tentu saja. Aku … sudah diajari
oleh seseorang yang sangat hebat selama seminggu ini.”
Aku sedikit mengernyit, penasaran
dengan seseorang yang dimaksud olehnya. “Siapa orang yang kau maksud begitu
hebat itu?”
“Hemmm ….” Ia berpose layaknya
orang yang sedang berpikir keras. Kepalanya ia tengadahkan ke atas dan matanya
fokus pada satu titik di langit-langit. Aku masih diam menunggu. Beberapa detik
akhirnya ia kembali menoleh, ke arahku. Sebuah senyuman terpatri indah di
bibirnya. “Kurasa … orang itu sama hebatnya denganmu, William.”
Oh, Tuhan! Kenapa rasanya wajahku
memanas begini???
“E-eh ….” Tidak. Tidak. Aku mulai
salah tingkah. William Dunbar sadarlah!
“Sudahlah. Lupakan,” ujarku
akhirnya, masih berusaha mengembalikan jiwaku ke asal.
Aelita terkikik geli di sana. Oh,
memalukan sekali.
.
“William?
.
“Hn.”
.
“Terimakasih.”
.
“Untuk?”
.
“Segalanya.”
.
.
.
***FIN***
.
.
.
Je t’aime
toujours
.
.
.
(I Love You
Always)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar